SEIKO SINCE 1881

Lingkungan - Daur Ulang Sumber Daya HutanLingkungan - Daur Ulang Sumber Daya Hutan

Seiko secara bertahap mengganti kertas yang digunakan untuk membuat kotak produk pelanggan dengan kertas bersertifikasi FSC® yang lebih ramah lingkungan.

Lalu, apa dampak penggunaan kertas bersertifikasi FSC terhadap lingkungan? Melalui halaman ini, kami ingin mengajak Anda mengenal kertas bersertifikasi FSC, serta bahan baku dan sumber daya hutan yang digunakan untuk membuat kertas tersebut.

FSC
FSC
FSC®認証

Forest Stewardship Council (FSC) berkomitmen untuk mendorong pengelolaan hutan yang bertanggung jawab di seluruh dunia.
Dengan memilih produk berlabel dan bersertifikasi FSC ini, Anda menunjukkan kepedulian terhadap hutan dan masyarakat yang bergantung padanya.

www.fsc.org

Apa itu sertifikasi FSC?

Sertifikasi FSC merupakan sistem sertifikasi internasional yang dibentuk oleh Forest Stewardship Council® (FSC). Sistem ini bertujuan memberikan informasi yang jelas kepada konsumen bahwa suatu produk dibuat menggunakan kayu yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab atau bahan yang dapat didaur ulang. Untuk memperoleh label sertifikasi FSC, seluruh organisasi yang terlibat dalam proses produksi, pengolahan, dan distribusi produk harus tersertifikasi, mulai dari tahap bahan baku hingga produk akhir. Produk bersertifikasi FSC telah diverifikasi menggunakan kayu dari hutan yang dikelola dengan memperhatikan keanekaragaman hayati serta hak masyarakat setempat, masyarakat adat, dan pekerja, atau menggunakan bahan yang mendukung pemanfaatan sumber daya hutan lainnya secara bertanggung jawab.

Menjadikan label sertifikasi FSC sebagai acuan tidak hanya membantu melindungi lingkungan hutan, tetapi juga menjaga hak masyarakat setempat dan pihak lain yang terdampak. Dengan demikian, konsumen dapat memilih produk yang dihasilkan melalui proses yang bertanggung jawab.

Hubungan antara Daur Ulang Sumber Daya Hutan dan Keanekaragaman Hayati

Bahan baku kertas terutama berasal dari kayu yang bersumber dari hutan. Hutan merupakan ekosistem penting, bukan hanya sebagai sumber kayu alami, tetapi juga sebagai penyedia udara dan air bersih serta habitat bagi beragam makhluk hidup. Karena itu, pembahasan mengenai kertas dan sumber daya hutan tidak dapat dipisahkan dari aspek keanekaragaman hayati.

Apa itu keanekaragaman hayati?

Keanekaragaman hayati adalah istilah yang merujuk pada berbagai organisme beserta hubungan antarorganisme yang menopang ekosistem kompleks. Sederhananya, tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan hidup sepenuhnya secara mandiri.

Manusia juga memperoleh manfaat dari ekosistem yang didukung oleh keanekaragaman hayati, seperti air bersih, udara, dan pangan. Hutan menyediakan lingkungan yang kaya bagi beragam organisme darat. Oleh karena itu, sumber daya hutan perlu dikelola secara bertanggung jawab.

Sumber Daya yang Dapat Didaur Ulang dan Isu Lingkungan

Kertas merupakan sumber daya yang dapat didaur ulang. Jepang memiliki capaian yang termasuk terbaik di dunia dalam hal ini, dengan tingkat penggunaan kertas daur ulang sebesar 67,0% dan tingkat pengumpulan kertas bekas sebesar 79,4% pada tahun 2021. Secara umum, penggunaan bahan daur ulang dianggap baik bagi lingkungan. Namun, dalam beberapa hal, penggunaan bahan daur ulang saja belum cukup.

Untuk membahas lebih jauh mengenai sumber daya hutan dan keanekaragaman hayati, kami berbincang dengan Chisato Mishiba, pakar ilmu kehutanan sekaligus Manager of Policy and Standard di FSC® Japan.

Chisato Mishiba

“Memang benar, pohon yang ditebang dan digunakan sebagai bahan baku kertas dapat ditanam kembali dan tumbuh lagi. Namun, bukan berarti penanaman kembali selalu menjamin pemulihan sumber daya yang dapat diperbarui. Hutan hujan tropis dan hutan primer dengan ekosistem yang kaya dapat ditebang lalu diganti dengan satu jenis pohon yang tumbuh cepat di seluruh area. Akan tetapi, cara tersebut tidak akan memulihkan kekayaan ekosistem hutan aslinya. Lalu, bagaimana dengan daur ulang kertas? Mendaur ulang kertas bekas dan bahan lainnya tentu dapat mengurangi tekanan akibat penebangan serta membantu melestarikan hutan. Namun, daur ulang memiliki keterbatasan. Proses daur ulang berulang kali dapat merusak dan memperpendek serat sehingga tidak lagi menghasilkan kertas berkualitas baik. Dengan kata lain, bahan yang sama tidak dapat didaur ulang tanpa batas. Pada akhirnya, kita tetap perlu mengambil sumber daya dari hutan. Pertanyaan terpentingnya adalah: bagaimana kita melakukannya?” (Mishiba)

Penebangan hutan primer yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi secara sembarangan untuk menghasilkan kertas memang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Kayu hasil pembukaan hutan umumnya dipasarkan dengan harga murah tanpa banyak perhatian terhadap persoalan tersebut. Pengguna juga sering kali tidak mengetahui dari hutan mana kayu itu berasal. Tanpa mengetahui kondisi hutan asalnya, sulit untuk memastikan apakah kayu tersebut diproduksi dengan cara yang ramah lingkungan. Informasi seperti ini pun tidak selalu mudah diperoleh konsumen.

Sertifikasi Hutan untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan

Sistem sertifikasi hutan dibentuk sebagai mekanisme untuk melindungi hutan dari siklus pembukaan hutan yang merusak tersebut.

“Tujuan utama sertifikasi hutan adalah membangun mekanisme berbasis pasar untuk mendorong pengelolaan hutan yang bertanggung jawab dan menekan laju deforestasi global. Dalam sistem ini, ditetapkan standar pengelolaan hutan yang bertanggung jawab, kemudian hutan yang dikelola sesuai standar tersebut akan disertifikasi. Pada akhirnya, sertifikasi hutan memberikan penanda yang dapat dilihat konsumen bahwa produk dibuat dari kayu yang dipanen secara bertanggung jawab. Untuk memperoleh label sertifikasi FSC, seluruh proses produksi, pengolahan, dan distribusi produk harus tersertifikasi, mulai dari bahan baku hingga menjadi produk akhir.” (Mishiba)

Dengan kata lain, sistem ini memungkinkan konsumen turut melestarikan sumber daya hutan dengan memilih produk berlogo sertifikasi FSC, yang menunjukkan bahwa seluruh proses pembuatannya telah memenuhi standar ketat.

Kerusakan lingkunganKerusakan lingkungan
Permasalahan Deforestasi Berbeda di Setiap Wilayah

Pembahasan mengenai berbagai persoalan serius terkait hutan telah berlangsung di seluruh dunia sejak 1990-an. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap wilayah sangat berbeda.

Sebagai contoh, hutan hujan tropis di Asia Tenggara ditebang untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit berskala luas. Ada banyak faktor penyebab deforestasi, mulai dari pertanian dan penambangan mineral di Amazon hingga pengambilan kayu untuk kebutuhan komersial maupun rumah tangga di Afrika. Namun, sebagian besar deforestasi di dunia disebabkan oleh penebangan yang berlebihan.

Permasalahan kehutanan di Jepang terbilang unik jika dilihat dari perspektif global. Sekitar 40% hutan Jepang merupakan hutan tanaman buatan yang didominasi pohon konifer. Salah satu masalah yang muncul adalah terbengkalainya area perkebunan hutan yang pohonnya telah mencapai usia panen. Sekilas, menebang pohon mungkin tampak sebagai solusi, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.

“Banyak hutan di Jepang berada di wilayah dengan medan terjal sehingga pengelolaan dan penebangan pohon yang tepat membutuhkan biaya besar. Pohon-pohon seumur di area perkebunan tumbuh dengan kecepatan yang hampir sama. Karena itu, penjarangan perlu dilakukan secara berkala ketika pohon mencapai tahap pertumbuhan tertentu. Tanpa penjarangan, pohon akan tumbuh terlalu rapat, kemudian tumbuh tinggi dan kurus karena kekurangan ruang. Akibatnya, sinar matahari sulit mencapai lantai hutan dan tanaman bawah, seperti tumbuhan pendek yang tumbuh di permukaan tanah, sulit berkembang. Tanah pun menjadi terbuka dan rentan mengalami erosi, sehingga hutan tidak lagi berfungsi dengan baik sebagai penyimpan air.” (Mishiba)

Masalah hutan tidak hanya disebabkan oleh deforestasi berskala besar. Kurangnya pengelolaan yang tepat juga dapat menyebabkan degradasi hutan.

Chisato Mishiba
Pentingnya Melindungi Lingkungan Alam Setempat

Dalam upaya mengatasi deforestasi dan melindungi keanekaragaman hayati, langkah yang tidak tepat justru dapat membuat tujuan yang diharapkan tidak tercapai.

Sebagai contoh, kebakaran hutan umumnya merupakan ancaman besar bagi hutan. Namun, di beberapa wilayah, kebakaran terjadi secara alami dan berkala sehingga spesies yang tahan api telah berevolusi dan membentuk ekosistem yang unik. Menekan kebakaran karena dianggap sebagai ancaman bagi hutan dapat menciptakan lingkungan yang tidak sesuai bagi spesies endemik yang berevolusi bersama siklus kebakaran tersebut, bahkan berpotensi mengubah ekosistem yang telah ada. Pertanian tebang dan bakar juga kerap dianggap sebagai salah satu penyebab deforestasi. Padahal, praktik ini telah dilakukan masyarakat adat selama berabad-abad dan tidak selalu menyebabkan deforestasi. Masalah yang lebih besar justru terletak pada percepatan siklus produksi dan pertanian berskala besar akibat pertumbuhan populasi.

Cara paling tepat untuk mengelola hutan sangat bergantung pada karakteristik wilayah dan ekosistem alaminya. Hutan memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri selama fondasi ekosistemnya tidak rusak. Namun, jika kerusakan ekosistem begitu parah sehingga membutuhkan waktu lama untuk pulih, manusia dapat membantu melalui metode yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Singkatnya, alih-alih menerapkan satu metode yang sama untuk semua hutan, hal terpenting dalam melindungi hutan dan keanekaragaman hayati adalah memahami serta menyesuaikan upaya kita dengan alam.

“Kayu merupakan sumber daya yang dapat didaur ulang, tetapi tidak semua kayu dihasilkan secara berkelanjutan. Memahami risiko lingkungan dan sosial yang berkaitan dengan pengelolaan hutan, serta memilih kayu dan produk yang dihasilkan secara bertanggung jawab, akan membantu mewujudkan hutan yang berkelanjutan. Sertifikasi FSC merupakan sistem yang dibangun berdasarkan kesepakatan berbagai pemangku kepentingan di seluruh dunia melalui pembahasan luas mengenai persoalan kehutanan. Saya berharap semakin banyak orang mengenali dan memahami logo FSC, serta secara aktif memilih produk yang memiliki label FSC.” (Mishiba)

Chisato Mishiba

Upaya Seiko dalam Mendaur Ulang dan Melindungi Sumber Daya Hutan

Pemulihan dan pelestarian sumber daya hutan merupakan isu penting yang harus ditangani dalam skala global. Seiko juga menjalankan berbagai inisiatif untuk mendorong daur ulang dan pelestarian sumber daya hutan di seluruh dunia.

Hutan Waku-Waku (Penuh Kegembiraan)

Morioka Seiko Instruments Inc. memiliki area yang sangat luas, mencapai lebih dari 100.000 meter persegi. Sekitar 37% dari area tersebut merupakan kawasan hutan. Namun, jika ditinjau dari perspektif keanekaragaman hayati, kawasan ini belum dapat dikatakan dikelola dengan baik. Kami memulai kegiatan pengelolaan hutan pada tahun 2011, setelah konferensi internasional COP10 tentang keanekaragaman hayati. Para ahli menilai hutan Morioka Seiko sebagai sumber daya alam yang berharga dan aset penting bagi ekosistem di sekitarnya. Karena itu, kami memutuskan untuk semakin meningkatkan kegiatan pelestarian.

The forest, which was named Hutan Waku-Waku (Penuh Kegembiraan), is home to roughly 800 trees of different sizes. The forest is being regenerated through tree thinning and the planting of new trees. The new tree saplings are the same konara oak and Mongolian oak species that have grown spontaneously in the forest. We have placed 15 nesting boxes around the site, along with four insect hotels to attract more insects and other small creatures, and there are many signs that the site is now being used for wintering and breeding. In 2008, we started holding briefings on protecting the environment together with local communities for local residents, companies, and government officials. In 2021, we began holding workshops such as the Seiko Exciting Environment School for children to help convey the importance of biodiversity.

Hutan Waku-Waku (Penuh Kegembiraan)
Biotop Waku-Waku

In 2022, Morioka Seiko Instruments Inc. opened a biotope called the Waku-Waku (Exciting) Biotope. The Biotop Waku-Waku is planted with trees that are native to the local area, such as Japanese white birch, Japanese flowering dogwood, and Japanese rowan. Other biotope activities include enhancing local biodiversity by, for instance, planting native wetland plants in the site’s wetland and water areas and planting and protecting endangered plant species.

Biotop Waku-Waku
Kegiatan Pelestarian Hutan

Pada tahun 2021, Seiko Watch dan Morioka Seiko menandatangani perjanjian komprehensif dengan Pemerintah Prefektur Iwate untuk mendorong kegiatan bersama yang bertujuan merevitalisasi wilayah setempat dan membangun komunitas lokal yang berkelanjutan. Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, kami berkomitmen membantu melindungi hutan Japanese white birch di Dataran Tinggi Hiraniwa, Kota Kuji.

Dataran Tinggi Hiraniwa merupakan habitat bagi sekitar 310.000 pohon white birch yang tumbuh berkelompok. Banyak di antaranya telah mencapai usia matang, yaitu sekitar 80 tahun. Hutan menjadi terlalu rapat sehingga pohon-pohon tidak dapat tumbuh secara alami. Oleh karena itu, kawasan ini membutuhkan tindakan pelestarian hutan yang tepat.

Karyawan Seiko beserta keluarga mereka secara rutin terus menanam dan merawat pohon bersama warga setempat, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang berkontribusi bagi komunitas lokal.

Kegiatan Pelestarian Hutan
Inisiatif Pelestarian Hutan Seiko di Seluruh Dunia

Perusahaan-perusahaan anak Seiko di berbagai negara juga berupaya melestarikan sumber daya hutan di wilayah masing-masing.

Di Thailand, kami berpartisipasi dalam upaya setempat untuk melindungi hutan di Suaka Margasatwa Thung Yai-Huai Kha Khaeng, yang juga disebut sebagai kawasan hutan belantara terbesar dan terakhir di Thailand karena keanekaragaman hayatinya yang luar biasa. Bersama Seub Nakhasathien Foundation, Seiko meluncurkan proyek Save the Forest. Melalui proyek ini, kami menjual jam tangan edisi terbatas dan menyumbangkan sebagian hasil penjualannya untuk mendukung pelestarian hutan. Dana tersebut digunakan untuk menyediakan seragam dan perlengkapan baru bagi penjaga taman nasional serta membangun sekat bakar di hutan yang menjadi habitat satwa liar.

Inisiatif Pelestarian Hutan Seiko di Seluruh Dunia

Di Australia, kebakaran semak berskala besar dan banjir telah memberikan dampak signifikan terhadap penduduk setempat dan satwa liar.

Seiko melelang jam tangan mewah edisi terbatas dengan motif Pink Flannel Flower untuk mendukung upaya perlindungan satwa dan tumbuhan liar di Australia. Pink Flannel Flower merupakan bunga asli Australia yang mekar setelah terjadi kebakaran semak dan turunnya hujan. Karena itu, bunga ini menjadi simbol energi dan harapan dalam menghadapi kesulitan. Banyak orang yang mendukung gagasan tersebut turut berpartisipasi dalam lelang. Jam tangan itu terjual dengan harga sekitar dua kali lipat dari harga normal, jauh melampaui perkiraan. Seluruh hasil lelang disumbangkan kepada Foundation for National Parks & Wildlife, organisasi amal yang bekerja sama dengan taman nasional di Australia untuk melindungi tumbuhan asli, satwa, dan warisan budaya.

Inisiatif Pelestarian Hutan Seiko di Seluruh Dunia

Berkontribusi Mewujudkan Masyarakat Netral Karbon dan Berorientasi pada Daur Ulang

Penggunaan kertas bersertifikasi FSC membuat kami semakin memahami pentingnya hutan sebagai penyedia bahan baku kertas.

Penggunaan kertas bersertifikasi FSC untuk kotak produk Seiko yang baru hanyalah salah satu inisiatif kami dalam mewujudkan masyarakat yang netral karbon dan berorientasi pada daur ulang. Upaya ini masih berskala kecil dan belum mampu memberikan kontribusi besar bagi lingkungan. Namun, kami berharap langkah ini dapat mendorong lebih banyak orang untuk memikirkan pentingnya melindungi hutan dan menjaga kelestarian lingkungan.

Mari kita tutup dengan pesan terakhir dari Ibu Mishiba.

“Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sulit menyadari keberadaan dan kebutuhan hutan, padahal kita tidak dapat hidup tanpanya. Menurut saya, upaya Seiko untuk berpartisipasi dalam proyek yang mengajak masyarakat memahami lebih dekat pentingnya memulihkan dan melestarikan hutan sangatlah berarti. Saya sendiri tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengajak anak-anak ke hutan. Karena itu, saya ingin mengenal kegiatan-kegiatan ini lebih jauh dan mengajak mereka ke sana di masa mendatang.”

Chisato Mishiba

Chisato Mishiba

Manager, Kebijakan dan Standar FSC® Japan
Master of Forest Science (School of the Environment, Yale University, Amerika Serikat), Doktor Ilmu Pertanian (Department of Forest Science, The Graduate School of Agricultural and Life Sciences, Faculty of Agriculture, University of Tokyo)

Dengan tujuan berkarier di bidang pelestarian hutan, Chisato Mishiba mempelajari ekologi hutan tropis pada jenjang pascasarjana. Setelah meraih gelar magister, ia melakukan perjalanan seorang diri ke Indonesia dan bekerja sebagai konsultan ekowisata. Ia kemudian terlibat dalam sertifikasi hutan saat bekerja di kantor regional Asia-Pasifik Rainforest Alliance, sebuah organisasi nonpemerintah internasional. Sebelum bergabung dengan FSC® Japan pada tahun 2014, ia bekerja sebagai penilai sertifikasi di 12 negara di kawasan Asia-Pasifik. Di FSC® Japan, ia turut memandu penyusunan standar nasional Jepang untuk sertifikasi pengelolaan hutan (FM) dan penilaian risiko kayu terkendali.

Lingkungan - Inisiatif Lainnya

KEMBALI KE ATAS